">
Lazada Indonesia

Sumbawa, Touring yang Menjadi Perjalanan Batin #part 1

Kegiatan terakhir malam itu adalah paking kebutuhan selama perjalanan: pakaian, PPPK, peralatan servis ringan, peralatan fotografi, surat-surat dan bekal yang akan digunakan selama perjalanan. Jam 12 malam baru selesai. Malam pun langsung memeluk dengan udara dinginnya. Jam 3 pagi bangun pagi untuk persiapan, namun dinginnya udara dinihari membuat sedikit malas untuk bergegas.

Bayangan perjalanan jauh yang menyenangkanlah yang menambah semangat untuk segera bangun dan cek terakhir segala kebutuhan dan perlengkapan. Empat puluh menit persiapan sudah dilalui, jaket kulit tebal, sepatu boot, celana jeans, headwear, kaos tangan dan helm sudah menghiasi tubuh. Motor mulai dipanaskan, dan beberapa menit kemudian perjalanan itu dimulai dari jogja. Dinginnya udara pagi begitu saktinya hingga menembus jaket kulit yang aku kenakan. Lalulintas pada jam seperti ini masih sangatlah sepi. Jika saja ada kendaraan melintas, biasanya para pedangan pasar atau kendaraan pengangkut kebutuhan pokok dari luar kota yang akan disetorkan ke pasar-pasar. Selain itu bus-bus malam yang mulai memasuki kota tujuan terakhir. Truk-truk besar pengangkut barang dagangan biasanya juga masih beristirahat. Dengan kondisi demikian, maka mesin motor ini dapat dipacu dengan performa maksimalnya.

Perjalanan pagi seperti ini memasuki masa kritis biasanya ketika matahari mulai memancarkan sinarnya menerangi bumi. Saat kritis ketika kantuk menyerang begitu hebatnya. Apa boleh buat, maka SPBU Moneng, Caruban, Jawatimur pun menjadi tempat istirahat pertama untuk memuaskan kantuk yang menyerang. Duapuluh menit cukup untuk menyegarkan mata yang sudah lengket. Kondisi kantuk lebih berbahaya bagi pengendara daripada kondisi lelah, karena itu jangan sekali-kali memaksakan tetap berkendara ketika kantuk menyerang. Hal yang masih bisa dipaksa meski juga mengandung bahaya adalah ketika lelah atau lapar. Istirahat di SPBU selain relatif aman, juga sekalian menghemat waktu untuk berhenti mengisi BBM yang memang sudah mencapai batas bawah.
Sembari beristirahat pengecekan ringan kuda besi juga dilakukan. Ternyata salah satu sekrup pijakan kaki depan ada yang lepas. Menjadi sebab kendornya pijakan kaki yang dirasakan sebelumnya. Getaran mesin dengan performa maksimal secara terus-menerus ternyata sanggup mengendorkan uliran sekrup tersebut.
Jawatimur terkenal dengan banyaknya simpangan kereta api. Jika anda berkali-kali melewati persimpangan kereta api, berarti sudah memasuki jalur utama lintas selatan jalan di jawatimur… .  Pada masa arus balik lebaran saat itu, simpangan kereta api merupakan salah satu titik kemacetan yang terjadi. Sepertiga perjalanan sudah ditempuh. Perut mulai menagih jatah yang sedari pagi belum diisi. Memilih warung dan menu makanan menjadi masalah sendiri yang membuat ritme perjalanan tersendat, karena harus melihat-lihat warung yang sesuai selera, nyaman untuk sekalian beristirahat dan isi kantong tentunya. Kemacetan di jalur jalan bypass Mojokerto menjadi berkah tersendiri untuk segera berhenti dan makan, sembari menunggu terurainya kemacetan.

Perjalanan batin dimulai dari sini, ketika kemudian masuk Bapak Ibu dan anaknya ikut beristirahat dan makan.  Bapak ini terlihat membersihkan luka ditangannya. Ketika saya tanyakan penyebabnya, ternyata baru saja mengalami kecelakaan. Saya ingat bahwa selalu tersedia plester luka di dompet saya, dan kemudian saya berikan. Peristiwa ini pula yang membuat saya sekarang selalu membawa perlengkapan PPPK setiap kali melakukan perjalanan jauh. Tujuanya terutama agar bisa memberikan pertolongan lebih jika terjadi kecelakaan pada sesama pengguna jalan. Keluarga ini ternyata barusan melakukan perjalanan jauh mudik lebaran, dan saat itu mau balik ke surabaya dari solo. Kelelahan menjadi faktor berkurangnya konsentrasi sehingga terjadinya kecelakaan ini, selain faktor pengguna jalan lain yang berhenti mendadak. Dalam perbincangan sembari makan dan istirahat ini Bapak ini bercerita pula bahwa perjalanannya mudik ke Masaran Solo, beberapa waktu lalu juga sempat terjatuh
Dan waktupun menunjukkan pukul 10:16, perjalanan masih panjang dan harus dilanjutkan kembali. Selepas bypass Mojokerto, jalan tembus mojokerto-sidoarjo saya sempat mampir ke sebuah bengkel untuk mengganti sekrup yang lepas, karena getaran pijakan kaki yang tinggal disangga dengan satu sekrup semakin terasa.  Perut kenyang, dan kurang tidur, membuat kantuk menyerang lagi sekitar pukul 13 dan sudah menjelang Paiton. SPBU Paiton yang luas, sejuk dan bersih menjadi restarea berikutnya untuk beristirahat tidur diatas motor (agar bagasi dan barang bawaan lain aman, tanpa melepasnya dari motor). Paiton pun menjadi titik awal saya mulai mengambir gambar dengan kamera yang sejak berangkat ada didalam tas.

Setengah jam lumayan cukup untuk melepas penat dan kantuk setengah hari berkendara sendirian dalam keheningan tanpa teman mengobrol. Selepas SPBU Paiton, jalanan mulai menyegarkan dengan kelokan-kelokan mulusnya yang melintasi hutan bakau, dengan rawa-rawanya. Selepas  hutan bakau Paiton ini pemandangan bagus lainnya di daerah pasir putih Situbondo. Side sea road membuat saya harus mengurangi putaran gas agar bisa menikmati keindahan ini, bahkan harus berhenti beberapa kali untuk mengambil gambar karena sayang untuk dilewatkan begitu saja. Daerah ini memang sangat cocok untuk dijadikan tempat berhenti beristirahat sekaligus untuk makan-makan, apalagi jika perjalanan rombongan. Pemandangan dan kesejukan alamnya sungguh menyegarkan. Deretan perahu-perahu tradisional menghiasi pantai berpasir putih ini. Jika air laut surut, maka terlihat lumpur di daerah rawa-rawa sepanjang pasir putih (nama daerahnya memang pasir putih) tersebut.

Selang beberapa saat, frame pandangan kita akan langsung berpindah dari laut ke hutan dan gunung. Jalur selanjutnya adalah Taman Nasional Baluran. Meskipun arus balik terakhir, saat saya melintas Taman Nasional ini, lalulintas sangat sepi, apalagi saat melintas jalur lurus yang naik turun, sama sekali tidak terlihat kendaraan lain yang melintas. Pemandangan elok ini mungkin akan berubah menjadi seram saat hari berubah menjadi malam. Apalagi jika perjalanan dilakukan single fighter seperti saya saya ini. Yang perlu diwaspadai saat melintas Taman Nasional ini adalah para penghuninya yang seringkali tiba-tiba menyeberang bergerombol. Mereka adalah para banteng jawa.


Menurut penuturan salah satu kenalan dosen UMM yang pernah mengadakan penelitian di Baluran, sebenarnya banteng jawa tidak berada di jalur jalan utama ini, tapi berkelompok agak masuk keselatan. Jadi yang saya lihat melintas waktu itu bukan banteng tapi sapi yang digembalakan di Taman Nasional ini. Selepas Taman Nasional, pantai Watudodol menjadi ikon menarik untuk berhenti dan sekedar berfoto atau beristirahat sembari mencari minum, menyegarkan tubuh kembali. Saat kita sampai disini, berarti sudah memasuki kabupaten paling timur di ujung jawa, yaitu Banyuwangi. Disini juga terdapat patung Gandrung, tarian khas Banyuwangi, dengan tulisan “Selamat Datang di Kabupaten Banyuwangi”. Watu Dodol merupakan batu karang berwarna hitam yang sangat keras serta memiliki bentuk yang unik, yaitu bagian atasnya lebih besar daripada dasarnya. Batu karang ini terletak tepat ditengah jalan yang dibagi menjadi dua arah. Karena batu karangnya inilah pantai atau daerah ini disebut demikian. Pada bagian selatan sisinya, tumbuh sebatang pohon kelor yang menambah keunikan batu tersebut. Meskipun dulu terlihat angker, tetapi kini Watu Dodol terlihat asri karena dihiasi taman sebagai jalur hijau. (http://id.wikipedia.org/wiki/Watu_Dodol)

http://renitaanggun.blogspot.com/2012/08/
watudodol-banyuwangi.html

Menurut legenda masyarakat Banyuwangi, pada jaman penjajahan Belanda dahulu Residen Schophoff membuat jalan yang akan menuju Panarukan dari Banyuwangi, namun jalan itu terkendala oleh adanya bukit. Tumenggung Wiroguno I yang pada masa itu memerintah di Banyuwangi mengadakan sayembara kepada masyarakat siapa saja yang bisa membuat jalan tembus melewati bukit akan diberi hadiah berupa tanah dari bukit batu itu ke selatan sampai daerah Sukowidi.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu begitu saja, sayembara dari Tumenggung Wiroguno I tidak ada yang bisa menyanggupi tantangan tersebut. Sampai pada suatu ketika sang Tumenggung ingat akan penasehatnya dulu yang bernama Ki Buyut Jaksa.

Ki Buyut Jaksa adalah seorang sakti bekas penasehat Tumenggung Wiroguno I yang menyendiri di pinggiran bukit Boyolangu. Di pengasingan Ki Buyut Jaksa mengangkat anak bernama Nur Iman. Nur Iman adalah anak dari Lemani yang menemani Ki Buyut Jaksa di pengasingan.
Watu Dodol

Singkat cerita Tumenggung Wiroguno I berhasil membujuk Ki Buyut Jaksa untuk membantu membuat jalan melewati bukit batu. Ki Buyut Jaksa dengan bantuan Jin beserta anak buahnya dan dipimpin oleh anak angkatnya Nur Iman berhasil membuat jalan melalui bukit batu tersebut. Bantuan dari bangsa Jin ini tentunya tidak gratis, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Jangan mendodol batu diluar batas yang diberi tanda oleh bangsa Jin.
2. Sisakan seonggok batu untuk duduk di pinggir pantai.
3. Minimal setahun sekali, Ki Buyut Jaksa dan anak cucunya harus menyambangi tempat ini.
Oleh karena itu tempat wisata tersebut diberi nama Watu Dodol, “Dodol” adalah bahasa Jawa yang artinya dalam bahasa Indonesia “bongkar”, sedangkan “Watu” artinya “Batu”.
Setiap tanggal 10 Syawal masyarakat Boyolangu selalu berbondong-bondong pergi ke Watu Dodol menggunakan dokar – Kereta yang ditarik oleh kuda. Peristiwa tahunan ini disebut tradisi “Puter Kayun”. (http://wisata.kompasiana.com/jalan-alan/2014/08/25/legenda-watu-dodol-dan-pesonanya-675034.html)
Pasir Putih Situbondo

kendaraan yang melintas Taman Nasional Baluran

hutan selepas Paiton


Previous
Next Post »
Lazada Indonesia
show_ads.js">