">
Lazada Indonesia

Mie Des... Kenyal Dimulut... Ketemu di DESa

Miedes, atau mides... adakah yang pernah dengar?
Miedes merupakan singkatan. Dahulu saya mengira miedes adalah mie desa karena kebanyakan warung-warung penyedia miedes memang didesa. Karena hal tersebut, mungkin hanya penyuka fanatik sajian mie dengan berbagai varian yang pernah mendengar bahkan merasakan sensasi kenyalnya mie ini. Miedes merupakan singkatan dari Mie pedes (pedas). Mie ini memang disajikan tidak dengan lombok layaknya miegodog atau miegoreng jawa.
Rasa pedas memang sudah menjadi bagian dari Mie ini yang telah dicampurkan dalam ramuannya. Jangan takut bagi mereka yang tidak menyukai pedas, karena meskipun namanya miedes, pedasnya mie ini layaknya perasa saja, tidak menampar atau menggigit... kitalah yang menggigit mie yang kenyal ini :D . Jadi bagi saudara-saudara dari sumatra yang terkenal penyuka pedas yang sangat, mungkin waktu pesan minta ditambahkan pedasnya, karena kalau menu standard, mungkin tidak akan terasa pedasnya bagi mereka.
Mie ini memang unik. Tidak selayaknya mie yang terbuat dari gandum atau terigu, Miedes dibuat dari bahan ketela atau singkong. Nah, karena singkong ini mengandung protein dan vitamin K, konon  dengan sering mengonsumsi miedes ini akan menurunkan resiko osteoporosis. Mie-aholic, sehingga tidak dibutuhkan usaha ekstra untuk dapat mencicipi kenikmatan rasa dan kekenyalan gigitannya. Keunikan lain Miedes adalah pada bentuknya yang bukan bulat layaknya mie yang lain, atau tipisnya kwetiaw, tapi berbentuk balok kotak yang dipotong-potong. Masih tentang keunikan yang saya temui di warung miedes Mbak Anik yaitu cara menakar sebelum dimasak yaitu dengan cara ditimbang. Katanya untuk miegoreng setelah dimasak sebelum disajikan juga ditimbang dulu. Jadi di dapur Miedes pasti ada timbangannya.
Tapi mungkin saja bisa meningkatkan tubercolosis, terutama bagi pengendara motor. Lha bagaimana tidak? Miedes ini banyak terdapat di Pundong, Bantul yang ditempuh lebih dari 30 menit dari kota Jogja kearah selatan, melintasi daerah persawahan. Warung-warung Miedes juga buka pada malam hari ha..ha..ha.. Jadi bukan Miedesnya yang meningkatkan resiko tubercolosis, tapi acara dan cara untuk berburu mendapatkannya. Mungkin saja nanti ada yang berminat membuka Miedes di kota Jogja atau daerah-daerah lainnya yang mendekatkanya dengan Mie-aholic, sehingga tidak dibutuhkan usaha ekstra untuk dapat menikmati kenikmatan rasa dan kekenyalan gigitannya. Keunikan lain adalah bentuknya yang bukan bulat layaknya mie yang lain, tapi berbentuk balok kotak yang dipotong-potong. Masih tentang keunikan yang saya temui di warung miedes Mbak Anik yaitu cara menakarnya yang ditimbang dahulu sebelum masuk ke wajan penggorengan atau untuk membuat miegodog miedes.
Jika dilihat dari bahannya sendiri, Miedes punya saudara kandung yang mungkin orang lebih mengenalnya lebih dahulu. Namanya Mie Lethek. Mie Lethek ini terletak tak jauh juga dari Pundong, lebih tepatnya di kawasan Imogiri. Menurut kabar, Mie Lethek memperoleh bahannya dari pengusaha mie yang ada di srandakan. Nah lo... Srandakan yang ada di ujung barat Bantul, mengirim produknya untuk dibuat makanan yang siap saji di warung-warung yang ada di Imogiri, yang berada di Bantul ujung timur. Mie Lethek juga dibuat dari bahan ketela yang digiling menggunakan tenaga sapi dengan gilingan raksasa bak jaman romawi untuk menjadi tepung sebagai bahan dasar pembuat mie lethek. Lethek sendiri artinya kotor. Ini bukan berarti mie lethek adalah mie yang kotor, namun orang menamainya karena tampilannya yang tidak sekinclong mie yang dibuat dari tepung terigu.
Miedes yang banyak terdapat di Pundong, daerah barat daya dari Imogiri dapat kita temui di beberapa warung. Orang Bantul dan sekitarnya sendiri punya pilihan masing-masing jika ditanya miedes mana yang jadi paling enak menurut versinya. Ini bukan masalah siapa yang juara dan paling enak, tapi masalah selera dan rasa dari tiap orang yang berbeda. Sekedar informasi yang didapat oleh hobbyklayapan, ada Miedes Mbak Anik dan Miedes Mbak Catur. Keduanya berada disekitar SMP3 Jetis, Jalan Parangtritis sekitar km 13 - 14. Jika dari arah Jogja, lokasinya setelah perempatan Manding (sentra industri kulit) dan sebelum SPBU Patalan. Jangan harap anda menemukan warung ini dippinggir jalan. Kedua warung ini agak masuk dari jalan Parangtritis, Miedes Mbak Catur di kanan jalan Parangtritis (dari arah jogja), Miedes Mbak Anik di kiri jalan masuk sekitar 250m (koordinat -7.923816, 110.353105). Tanda untuk berbelok kearah keduanya adalah Apotek Patalan di kanan jalan, sebelum SMP3 Jetis. Miedes Mbak Catur berada sebelumnya, sedangkan arah ke Miedes Mbak Anik jalan persis didepannya. Beberapa warung Miedes lainnya berada disekitaran pasar Pundong yang terletak sekitar 2 km di timur jalan Parangtritis. Hobbyklayapan juga sempat melihat beberapa warung kecil sudah mendekati Parangtritis di kanan jalan, namun sepertinya tidak istimewa.
Sambil menunggu hidangan tersaji, hembusan angin persawahan akan membelai tubuh, sembari menikmati hangat dan legitnya teh panas dengan gula batu. Mie Des yang pada awalnya disajikan dengan cara digoreng, sekarang juga disajikan sebagai mie godog. Harga Seporsinya kurang dari Rp.`10.000, bahkan sudah dengan sajian teh panas gula batu tadi. Tercatat artis Sujiwo Tedjo pernah mengunjungi Warung Mie Des Mbak Anik (yang katanya asli miedes) ini. Hal ini terlihat dengan adanya pesan tertulis dari Mbah Jiwo yang dibingkai dalam frame yang dipasang didinding warung Mie Des Asli Mbak Anik ini. Miedes ini berdiri sejak 1983. Pengelola yang sekarang, yaitu Mbak Anik dan suaminya Mas Agus, sudah merupakan generasi ketiga. Warung-warung ini buka mulai sore hari saja. Jadi mari berburu kuliner malam seputaran Bantul, salah satunya ya Miedes ini... yokkk... :)
Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
Don Virtus
admin
8 November 2015 pukul 10.53 ×

Ayo kang... kapan kita hajar mie des... hahahahah... :D

Congrats bro Don Virtus you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Lazada Indonesia
show_ads.js">