">
Lazada Indonesia

Asem Arang dengan Outstadtnya yang Legendaris Sambil Menikmati Loenpia atau Gimbal Tahunya

Siapa yang tahu kota Asem Arang? mungkin tidak ada, karena Asem Arang sekarang diucapkan menyambung menjadi Semarang. Dibangun pertama kali oleh Sunan Pandan Arang, yang sekarang sering disebutkan menjadi Pandanaran. Kota yang pada awalnya merupakan pesantren ini kemudian berkembang pesar menjadi kota pelabuhan. Salah satu tokoh yang pernah berlabuh dan meninggalkan jejaknya adalah Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho sempat membangun Klenteng yang besar di Gedong Batu, saat ini terletak di Pamularsih. Itu tadi sejarah singkat tentang Semarang, yang sekarang telah menjadi kota besar sebagai ibukota dari jawatengah.
Semarang memang hanya sedikit mempunyai tempat wisata alam, namun demikian bukan berarti tidak bisa berwisata di Semarang. Kuliner bertebaran, hal ini karena sebagai pelabuhan, menjadi tempat bagi berkumpulnya banyak orang dari banyak suku dan bangsa. Tentu saja mereka yang sempat tinggal dan menetap akan memberikan warna khas pada lokasi bangunan dan juga khasanah kulinernya.
Loenpia tentu saja menjadi raja kuliner khas di Semarang. Ketika orang menyebut Loenpia, bisa jadi langsung serat otaknya menghubungkan dengan kata Semarang. Ya, Loenpia memang asli toelen lahir, tumbuh dan besar dari Kota Semarang. Bahkan Semarang juga punya julukan layaknya Jogja yang kota Guded, yaitu Semarang kota Loenpia. Konon katanya Loenpia ini muncul dari sebuah romantisme kisah cinta antara pendatang dari tionghoa dengan wanita pribumi jawa.
Nah... sudah penasaran belum kalau dengan tentang romantisme cinta? :D. Koko Tjoa Thay Yoe yang berdagang di sebuah chinatown van Semarang ini ternyata jatuh cinta dengan mbakyu Wasih yang asli jawa. Mereka sama-sama berjualan ditempat yang sama, dan pepatah jawa "tresno jalaran soko kulino" ternyata menimpa mereka berdua. Kisah cinta inipun mereka tuangkan dalam masterpiece kuliner setelah pernikahan meleburkan dua insan ini menjadi satu. Cita rasa jawa menjadi rasa yang mencuat dalam sajian tionghoa.
Nah, mau tahu TKP kisah cinta yang tertuang dalam karya kuliner kedua insan ini? datang saja ke Loenpia Gang Lombok 11. Tapi jangan harap bertemu dengan Koh Tjoa Thay Yoe, atau Mbakyu Wasih... lha wong sekarang yang meneruskan usaha mereka sudah generasi keempat yang merupakan masterpiece dari cinta mereka dalam bentuk yang lain ;) .
Selain di Gang Lombok yang terkenal dengan nama Loenpia Gang Lombok, masih ada juga Loenpia Mbak Lien di jalan pemuda dan pandanaran. Mba Lien ini juga masih keturunan dari Pencipta Loenpia khas Semarang ini. O ya, salah satu kekhasan dari Loenpia Semarang adalah rebung sebagai isiannya. Jadi anda wajib curiga jika anda makan Loenpia yang isinya bukan rebung tapi bambu misalnya, pastilah itu bukan loenpia asli semarang :D.
Kuliner Khas Semarang yang lain adalah Tahu Gimbal. Jangan membayangkan Tahu yang penggemarnya Rastamania lho... apalagi ngebayangin Tahu yang dicampur dengan rambut Gimbal :D. Tahu gimbal komponen utamanya memang tahu. Nah, gimbal sendiri merupakan udang yang digoreng dengan tepung menjadi semacam rempeyek namun tebal, atau bakwan/bala-bala namun tipis dan garing. Irisan tahu pong goreng dan gimbal ini dicampur dengan sayuran layaknya lotek atau gado-gado dan diguyur dengan kuah sambal seperti gado-gado juga. Irisan lontong yang juga dicampur dalam satu piring akan membuat sajian semakin menggunung.
Sepertinya Tahu gimbal ini memang saudara kandungnya lotek dan gado-gado ha..ha..ha.. Sambal di tahu gimbal sepertnya ada tambahan petis (dibuat dari udang) sehingga membedangan dari saudara-saudaranya yang lain. Pembeda lainnya adalah telur mata sapi yang menjadi topingnya.
Ludah anda sudah mulai mengalir di mulut? mari silahkan meluncur ke seputaran Taman KB, di seputaran jalan menteri Supeno, dekat SMA 1. Tahu Gimbal yang lumayan terkenal adalah Tahu gimbal Pak Man di Jl. Plampitan No. 54, Semarang yang buka dari jam 12 sampai dengan jam 22. Ada juga Tahu Gimbal Pak Edy yang masih diseputaran taman KB. Namun demikian, warga semarang mempunyai tempat-tempat favorit sendiri dalam menikmati tahu gimbal ini, sesuai selera mereka masing-masing.
Bagi mereka yang lebih senang membawa pulang oleh-oleh kuliner daripada menyantapnya ditempat, ada beberapa pilihan kuliner yang bisa dijadikan tujuan. Bandeng presto yang aslinya dari Juwana Pati ini bisa ditemui di seputaran jl Pandanaran dan Pamularsih. Carilah Bandeng Erlina yang sudah cukup terkenal. Karena di presto, maka Bandeng ini mempunyai tulang atau duri yang lunak, sehingga anda bisa menghabiskan dari ujung kepala sampai ekor tanpa sisa dan takut tersangkut durinya di tenggorokan. Nah, yang kasian pasti kucing anda, karena ndak akan kebagian duri bandengnya... :D
Selain Bandeng, masih ada yang khas lagi yaitu Tahu Pong. Pong dari istilah kopong, atau kosong atau tidak berisi. Namun ada juga yang menelusuri bahwa Pong berasal dari bahasa Hokkian Phong yang artinya menggembung. Ini memang sesuai dengan bentuk tahu yang gendut menggembung namun tanpa isi alias kopong ketika dibelah. Kuliner ini pun merupakan akulturasi yang dibawa oleh etnis Tionghoa yang menetap di Semarang.
Jika ingin menikmati dan membawanya sebagai oleh-oleh, silahkan datang ke seputaran jalan Gajah Mada 63 Semarang. Jika masih bingung, tanyakan saja pada orang yang lagi nongkrong atau lewat di jalan Gajah Mada dengan santun, pasti dikasih petunjuk, apalagi jika anda mengajaknya untuk makan bareng di sana :D
Wingko babat juga ikut menghiasi perkulineran di Semarang. Wingko Babat yang paling legendari ya yang bercap kereta api. Itu sudah ada sejak saya masih ingusan :D. Dimana mendapatkannya? jika ingin mudah, ketika berbelanja di seputaran Bandeng Presto pasti juga akan ditemui gerobak2 penjual wingko babat. Tapi jika ingin ke toko langsung silahkan datang saja ke Cenderawasih No.14.
Sebenarnya masih ada tetangga Semarang yang juga menyumbang makanan khas Semarang ini yaitu Ungaran. Ungaran merupakan Kota Semarang lantai 2 karena memang jauh lebih tinggi daripada Semarang :D. Dari Ungaran (yang tentu saja akan ditemui juga di Semarang) ada oleh-oleh khas Tahu Bakso dan Babad Gongso (yang ini akan lebih enak jika dimakan ditempat.
So... kapan guys, mau berkunjung ke Semarang untuk memanjakan lidah? Tentu saja masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi selain kuliner, dan itu akan saya ulas secara tersendiri, karena kalau keroyokan sudah mainstream dan tidak gentle :D.


Previous
Next Post »
Lazada Indonesia
show_ads.js">