">
Lazada Indonesia

Siapkan Lensa Panjang untuk "Menembak" Bangau di Mangrove Morosari

Mangrove sebagai penahan gelombang pasang air laut itu sudah pasti. Mangrove sebagai tempat wisata itu beberapa. Nah, dari yang beberapa inilah hobbyklayapan akan membagikan pengalamannya. Beberapa tempat wisata mangrove atau hutan bakau yang ada di jawa antara lain adalah Mangrove Muara Angke di Jakarta, Mangrove Morosari di Demak, Wisata Mangrove Jembatan Merah Rembang, Mangrove Baros (sedang tahap rintisan) di Bantul, Jogja, Mangrove Pancer Cengkrong di Teluk Prigi, Trenggalek, Mangrove Gunung Anyar dan  Mangrove Wonorejo, di Surabaya, serta Mangrove Bedul di Banyuwangi, dekat G-Land yang sudah terkenal lebih dahulu tersebut. Mungkin juga masih ada beberapa lainnya yang hobbyklayapan memang belum tahu. Kali ini Hobbyklayapan mengunjungi Taman Mangrove Morosari di Demak.
Abrasi yang sudah sedemikian parah membuat beberapa perkampungan di pantai utara kawasan Demak bagian barat ini menghilang. Dalam hal hilangnya beberapa kampung ini maka Penanaman Mangrove mungkin sudah terlambat. Daerah yang dulunya persawahan, sekarang hanya terlihat genangan air keruh laut yang merupakan abrasi dari laut jawa. Kami pikir cukup dalam, namun ternyata tidak lebih dari 1 meter kedalamannya. Sedangkan bekas perkampungannya masih bisa disusuri menggunakan ojek perahu yang dapat disewa. Lokasi Taman Magrove Morosari ini sendiri terletak di desa Bedono, kec. Sayung, Demak, Jawatengah, sebelah timur pantai Mor (Morosari) yang sekarang kondisinya kurang terawat. Kawasan konservasi ini dibangun dengan dana dari OISCA-Tokio Marine Nichido, Jepang, bekerjasama dengan Pemda Demak dan masyarakat sekitar. 
Kawasan Mangrove ini sekarang sudah menjadi tempat tinggal dan surga baru bagi habitat bangau. Bangau yang lebih besar dari ayam ini terlihat nyaman tinggal di kawasan konservasi ini. Ada Bangau putih dan bangau hitam dengan populasi lebih besar bangau putihnya. Ketika hobbyklayapan diantar berkeliling dengan perahu, menyusuri pinggir kawasan konservasi maupun kanal-kanal diantara rerimbunan pohon bakau, mereka terlihat ada yang terbang berombongan, berjalan-jalan disela rerimbunan bakau, mencari makan, maupun yang hanya bertengger di dahan, dekat sarangnya. Beberapa kali kami juga melihat bangau yang mati dan tersangkut di dahan-dahan bakau. Entah mati secara alami atau karena ada saja pemburu yang menembaknya. Selain bangau, tempat ini juga banyak ditemui beberapa jenis kerang.
Ular kadang juga terlihat menyeberang atau melintas di pinggir kanal saat perahu kami lewat. Ikan blodog atau ikan pelompat juga sering ditemui dikawasan rawa-rawa bakau ini.
Jembatan kayu di beberapa tempat sudah dibangun melintas di sela-sela pepohonan bakau. Tempat seperti inilah yang menarik untuk dikunjungi dan tentu saja enak untuk bersantai apalagi bagi mereka yang senang fotografi, sebagai fotografer maupun yang difoto, termasuk mereka yang masuk jenis penggemar selfie. Paling tidak yang kami ketahui ada 2 tempat keberadaan jembatan kayu yang sering disebut mangrove trail ini. Satu ditengah jalan yang menuju ke makam KH Abdullah Mudzakir, satunya lagi dihutan sebelah timurnya, dekat dengan bekas perkampungan yang terendam air laut. O iya...
Ditempat ini memang ada wisata ziarah, yaitu Makam KH Abdullah Mudzakir yang letaknya paling ujung, setelah melewati mangrove ini. Bentuknya sebuah pulau kecil yang diatasnya hanya terdapat makam tersebut. Makam ini benar-benar berada diujung jalan, sehingga dari area konservasi masih harus menyusuri jalan setapak selebar kurang lebih 1 meter untuk sampai. Disebelah utara dari kawasan ini memang sudah dipasang pemecah ombak untuk melindungi makam dan kawasan konservasi. Kali ini hobbyklayapan mengunjungi hutan konservasi yang berada disebelah timur dengan menaiki ojek perahu milik pak Ismail.
Meskipun daerah pantai, namun dibedono ini jarang ada nelayan. Bahkan di Pandansari tempat Pak Ismail ini tidak ada nelayan sama sekali. Mereka dahulunya petani sebelum lahannya tertutup air pasang. Sekarang mereka beralih ke tambak dan pelaku wisata tentunya. Sampai saat ini bahkan yang memiliki perahu baru Pak Ismail ini. Beliau saat ini memiliki 5 perahu panjang 3 meteran lebar 1,5 m yang disewakan sebagai ojek kepada para pengunjung untuk menyusuri kawasan mangrove Morosari. Untuk seorang pengunjung, ongkosnya 20rb. Tidak ada jumlah minimal untuk diantar berkeliling naik perahu milik Pak Ismail ini. Beliau hanya berpesan, nanti kasih tip saja ke tukang perahunya, apalagi jika ingin berkeliling lebih jauh lagi, tinggal bagaimana ngomongnya dengan pengemudi perahunya.
Beberapa tetangganya yang mengemudikan dan sekaligus menjadi pemandu dengan menggunakan perahu milik Pak Ismail ini. Perahu-perahu ini berlambung datar, sehingga ketika kedalaman air tidak lebih dari 50cm pun perahu masih tetap bisa berjalan.
Kami diantar pak Kasmuni yang terlihat lebih mirip pesilat dari china karena brewoknya yang putih mengkilap, kontras dengan kulit legamnya akibat terpanggang mentari. Perahu melaju pelan dan sempat terombang-ambing ombak yang bagi sebagian orang mungkin akan menyiutkan nyalinya. Tapi ketika kami lihat tenangnya Pak Kasmuni, maka goyangan perahu ini menjadi kenikmatan tersendiri. Jalur yang dipilih adalah ketimur, menyeberangi aliran bekas sungai Gonjol dan Pandan untuk kemudian belok kiri kearah laut menyusuri pinggiran kawasan bakau tersebut.
Puluhan bangau terlihat terbang baik bergerombol maupun sendiri. Puluhan lainnya juga terlihat bertengger dan bermain di pucuk-pucuk bakau. Beberapa terlihat berjalan di bawah, diantara akar pohon bakau atau sekedar bertengger dipinggirnya. Beberapa saat kemudian Pak Kasmuni mengarahkan perahu masuk kekanan kesebuah kanal diantara rerimbungan pohon bakau. Beberapa puluh meter dari ujung kanal ini ternyata ada sebuah dermaga kayu tersembunyi. Dermaga ini merupakan gerbang dari Mangrove Trail Morosari. Beberapa perahu sudah bersandar didermaga kecil ini menunggui penumpangnya yang sedang menikmati kesejukan trail dan suara kicau burung di kawasan mangrove tersebut.
Kami pun dipersilahkan untuk berjalan-jalan menyusuri trek dari kayu tersebut dan berfoto sepuasnya. Mas Rizal yang kami temui di lokasi ini yang merupakan penduduk sekitar yang juga mengantarkan pengunjung, menyarankan untuk mengunjungi bekas kampung yang sudah terendam air pasang. Kamipun meminta Pak Kasmuni untuk mengantarkan kami ke bekas kampung tersebut yang masih dalam satu kawasan mangrove tersebut. Arah bekas perkampungan tersebut masih ketimur atau lebih masuk kedalam menjauhi celah untuk masuk tadi. Disebuah persimpangan ditengah bakau, seperti persimpangan jalan, tapi kali ini kami diatas air menggunakan perahu, Pak Kasmuni memberitahu bahwa disekitar persimpangan itulah masih tersisa bekas perkampungan yang sudah ditinggalkan tersebut.
Memang tampak beberapa bangunan masih berdiri dengan bagian bawahnya yang sudah terendam air, diantara rerimbungan bakau. Sebuah Masjid juga masih lengkap dengan pengeras suaranya yang masih terpasang di dekat kubahnya. Dari sini kami memutar kearah barat lagi menyusuri mungkin bekas jalan kampung tersebut kembali ke arah dermaga tempat bersandarnya perahu-perahu ojek tadi. 
Di dermaga kami masih sempat mengobrol dengan Pak Ismail seputar Morosari ini. Beliau menceritakan tentang penghuni kampung yang harus dipindahkan karena abrasi ini. Tentang pengelolaan wisata yang masih terdapat conflict of interest, tentang pengunjung yang sering masih menemani ngobrol sambil membakar ikan maupun tiram dipinggir dermaga ditemani hangat dan nikmatnya kopi sampai larut malam.
Beberapa dari pengunjung memang sering menginap dengan tidur di perahu yang ditambatkan di dermaga kecil tersebut. Di bekas kampung yang barusan kami kunjungi tersebut menurut Pak Ismail ternyata masih ada 3 kk yang masih bertahan menghuninya dengan pencaharian sebagai pencari kepiting mangrove. O ya, nama kampung tempat tinggal Pak Ismail ini adalah Pandansari, Kelurahan Bedono. Dusun ini masih penuh penghuninya. Beberapa penduduk memang masih belum tahu fungsi mangrove, sehingga asal nebang karena bagus untuk membakar batubata. Sambil ngobrol dipinggir dermaga, berseliweran pengunjung yang akan ziarah ke makam KH Mudzakir. Sayangnya masih banyak yang menggunakan motor menyusuri jalan sempit tersebut. Hal ini karena konflik kepentingan pengelolaan parkir, yang diakui memberikan penghasilan yang lumayan besar juga. Perahu-perahu
Pak Ismail ini dibuat dari kayu jati. Sebuah perahu beserta mesinnya menelan biaya sekitar 17 jt yang dipesan dari daerah Wedung, diutara kota Demak. Menikmati sore di dusun Pandansari ini memang asyik, ketika langit memperlihatkan indahnya bukan teriknya. Tanjung emas juga terlihat dari sini karena memang lokasi ini lebih dekat ke Semarang daripada dari Demak Sendiri.
Untuk sampai kelokasi ini, silahkan belok keutara (jika dari Semarang belok kiri) disebelah barat Jembatan Sayung. Disana ada gerbang dengan tulisan pantai Morosari. Meskipun sudah ada tulisan selamat datang, tapi jarak dari jalur Semarang-Demak ini masih sekitar 3 km dengan kondisi jalan cor semen. Setelah 3km belok kanan menyeberang jembatan sekitar 650m anda akan sampai ke dusun Pandansari. Ambil arah ke makam Kiai Mudzakir untuk sampai ke dermaganya Pak Ismail. Di kiri kanan jalan sekitar 2 meter tersebut sudah banyak orang berjualan dan lokasi parkir sepeda motor. Untuk Mobil diparkir di dekat SD Bedono 02, disebelah timur kanal Pandansari tersebut. Tidak ada jam kunjung ke lokasi ini karena untuk ziarah ke makam memang 24 jam, namun untuk menikmati mangrove tentu saja hanya sampai senja.


untuk foto-foto yang lebih lengkap silahkan kunjungi link berikut bagi yang punya facebook


Newest
Previous
Next Post »
Lazada Indonesia
show_ads.js">